Genre : humor niatnya
Warning : yaoi, ancur, kurang humor
Author : Mocha Chubby
Cast : the gazettE, Miyavi, Hyde, Nightmare,
Alice Nine
Rate : T+
Disclaimer : mereka milik diri mereka masing-masing.
Masa
kecil anak-anak Gazette di desa PS. Sebuah fanfic asal-asalan dari author nubie.. ^_^
-----------------
Suatu
ketika di Peace and Smile Village. Terdapat anak-anak yang lagi main-main di
dekat kebon pisang yang bersebelahan sama kolam (baca: empang) tempat milik pak
Miyavi. Bapaknya si Aoi ini emang penggemar beratnya finding Nemo, tapi karena
jauh dari laut makanya milih melihara ikan gurami dan gabus aja. Tapi saking
seringnya melihat gurami alhasil anak sulungnya jadi deh bibirnya seseksi(?)
ikan yang terkenal dengan nama kissing gurame itu.
“satu...
dua... tiga... empat....” seorang anak lagi menghitung sambil nempelin matanya
ke tangan yang nemplok ama pohon pisang ambon yang baru keluar
ontongnya(bunganya).
“pssttt.... jangan ikut..” ucap seorang anak lainnya yang
make noseband pada temannya yang lehernya garis-garis kayak zebra. Entah karena
ngefans sama zebra atau karena habis bantuin emaknya si Nyai Hizaki bikin
perkedel di dapurnya yang masih pakai kayu bakar. (wah Hizaki nggak takut itu
gaunnya kebakar ya?)
“Aku
sembunyi dimana dong?” tanyanya lirih kebingungan di samping Reita.
“Pokoknya
jangan sama aku.” Reita mengusir Ruki dari tempat kekuasaannya yaitu di belakang
pepohonan nanas. Niatnya sih sekalian ngambil nanas juga sih kan lumayan
panas-panas gini. Ruki pergi dengan gontai mencari tempat persembunyian lain.
‘fufufufu
pasti nggak cepet ketemu deh aku.’ Pikir Aoi dalam hati, sembunyi dimanakah?
Author nggak tahu kalau tahu bukan bersembunyi namanya.(plakkk)
“lima...
enam....” si anak berlesung pipit alias ber-dimple masih terus menghitung.
“masih enam seratusnya masih lama deh..” komennya di tengah menghitung.
“disini
aman deh kayaknya.” Uruha lagi sembunyi di tumpukan jerami di bawah pohon
mangga dekat sawah. “nyaman banget juga disini..” ucapnya menikmati hawa sejuk
disekelilingnya.
Kita
beralih ke Ruki, dia sudah bersembunyi dengan baik di antara pohon jagung.
Entah mengapa anak ini tidak memilih sembunyi aja di kebon tomat kan
kemungkinan gatel-gatelnya kecil. Apa mau menyamarkan rambutnya diantara
rambut-rambut taneman jagung? Atau karena ilfeel ama tomat? Entahlah hanya Ruki
yang tahu.
“delapan
belas... sembilan belas... seratus...” sepertinya Kai belum bisa berhitung
dengan baik walau sudah kelas 2 SD sekarang. “Nah Kai cari ya sekarang?!”
ucapnya sambil tersenyum mulai mengeksplorasi sekitarnya.
“Ruki,
Rei-chan, Aoi, Uru... Kai comiiing.....” tambahnya sok-sok pakai bahasa
Inggris. Padahal ulangannya kemarin dapet kursi(baca: empat).
“Dimana
ya?? Kok sulit banget ditemuin malah udah mendung lagi.” Ucap Kai udah gontai
mencari ke sekeliling kebon pisang selama setengah jam tapi belum nemuin
teman-temannya.
Sementara
itu.
Di
tempat Reita yang masih ngupasin nanas dan entah bawa pisau dari mana itu anak
tak berhidung (dihajar fans Reita=menghajar diri sendiri)
“Uhh,,,
udah bosen mana sih Kai?? belum dateng juga .” ucapnya sambil celingukan.
Padahal si Kai menghitungnya nggak lengkap coba lengkap lebih lama lagi
kayaknya. XD
At
Uruha place.
“grookkk...
grook...” si Uruha yang emang udah pelor(nempel langsung molor) ketiduran
diantara hangatnya tumpukan jerami. Nggak tau deh kalaupun ketemu nanti bisa di
bangunin apa mesti diseret pakek gerobak
nanti pulangnya.
Di
tempatnya Aoi.
Blup..blup....
‘ufufufufu
bener deh itu si Kai kewalahan, belum nemuin aku.’ Pikir Aoi bangga sambil
lihat Kai yang lagi bingung muterin
pohon pisang. ‘ini kolam emang tempat persembunyian yang bagus buat aku.’ OMG
ternyata dianya nyelem di kolam dan pakai bambu buat napas. Salut deh buat Aoi,
anda memang gurami sejati. (pluukkk... author dilemparin lumut kolam)
Di
tempatnya Ruki.
“si
Kai lama juga yah? Emang susah kalau yang jaga rada autis dan pikunan gitu
kayaknya.” Bisik Ruki lirih.
“ihh...aahhh.....
ahh jangaann...” Ruki mendengar suara yang lirih tak jauh darinya masih di
kawasan ladang jagung.
“nggak
apa-apa kok... sini deh....” suara lainnya yang bikin makin curiga karena itu
anak merasa kenal ma suara yang ini.
“auchh.......sa...
sakiiit...” ucap suara satunya lagi bikin Ruki nggak betah pengen nyari sumber
suara.
“iiihhhh
kamu imuuuut... kalau begitu....bikin aku nggak tahan....” ini suara yang
diapal banget ama Ruki suara kakaknya si Ruka, tinggal membuka selapis
pohon jagung lagi dan bakal jelas deh
apa yang mereka lakuin juga identitas mereka.
“Rukaaa....jangan
mesum siang-siang..... Eh...” teriak Ruki yang berpikir telah menggerebek
kakaknya Ruka dan Yomi yang notabennya anak kelas 5 SD tapi mesumnya udah nggak
ketulungan.
“Mesum
apaan? Orang lagi ngobatin lutut Yomi yang habis jatuh pake daun pete(?)” tanya
si Ruka inocent pada adiknya Ruki yang mangap karena melihat pemandangan yang
berbeda dari pikirannya.
“Iya
ngapain juga mesuman di ladang jagung, gatel tahu. Mending juga di rumah aku
aja.” Ucap si cebol Yomi menambahi. Iya cebol pasalnya sudah kelas 5 SD tapi
masih tinggian Ruki, padahal Ruki aja udah dianggep boncel sama Reita. Kebayang
nggak tuh betapa ‘munggil’ ukenya Ruka.
“Ya
maaf habis kalau lihat kalian kepikirannya pasangan mesum mulu sih.” jelas Ruki pada kakaknya dan calon kakaknya itu seenak hati.
“Uhukkk...”
Ruki terbatuk ketika sebuah tepukan(pukulan) mendarat di punggungnya dengan
mulus.
“Ruki
ketemu..” si cowok ber-lesung pipi tiba-tiba mukul si Ruki dan lari balik ke
start.
“Gyaahhh.. gara-gara kakak jadi ketahuan.” rutuk
si Ruki kesal lalu ikut lari ke start
takut keduluan si Kai dan di suruh jaga.
“Hore...aku
nggak jaga.” Ucap Ruki seneng karena bisa mendahului Kai. Kok bisa? Secara
logika kan kakinya panjang Kai? Bisalah karena di jalan Kai lihat si Nao lagi
kesulitan ngambil layang-layang nyangkut di pohon jati. Sebagai seme yang baik
harus bantuin uke. Si Kai yang udah tahu kalah balik lagi nyari tiga temennya
yang lain.
Semenit kemudian, Kai ngelongok ke bawah pohon
ceplukan “ Reita kamu di situ ya?? Ah nggak ada”
Bermenit
menit kemudian. “Uruha kamu di situ ya?” ucap Kai sambil ngelihat di balik
pohon andong yang masih belum ada semeter tingginya.
“Aoi
disitukan? Eh ga ada ya?” ucapnya lagi setelah membalik sebuah genteng yang
tergeletak di depannya. Jadi tahu kan kenapa lama banget nyarinya? Yah yang
dicari tempat-tempat yg nggak masuk akal sih.
Setelah
bermenit-menit-menit-menit kemudian. “akhirnya nemuin si bebek Uru.” Ucap Kai
sambil sweatdrop melihat seekor bebek(plakk) maksudnya Uruha lagi
nganggrem(?) alias mendekam di atas jerami dengan mata terpejam dan
melantunkan lagu kodok. Grook grook begitu suaranya. Singkatnya Uruha lagi
tidur siang di atas jerami.
“Uruha,,
ru,,, bangun,, ru BANGUUNNN.” Teriaknya di dekat telinga Uruha membuat si
sleeping bebek(?) terbangun.
“Ahhh
brisik... ganggu.... kalo Kai denger
gimana?” ucapnya masih nempel di jerami dengan
mata merem.
“INI
KAI URU,,,,, BANGUUUNNNN...” teriaknya lagi membuat Uruha langsung melek.
Seketika itu juga Kai kabur balik ke start alias pohon pisang deket kolam.
“Kaiiii...
gyahhh...” Uruha yang baru melek dengan tergopoh-gopoh bangun menyusul Kai
walau masih menguap dan merem melek. Akibatnya
“aduwwwhh....
sapa naruh pohon di sini?” Uruha
marah-marah sama pohon pete yang di tabraknya.
“Tinggal
Aoi sama Reita nih..” kata Ruki pada Kai.
“Mereka
dimana sih kasih tahu dong?” pinta Kai hampir nyerah.
“Kalo
dikasih tahu kamu jaga lagi Kai.” Timpal Uruha yang sekarang sudah bangun 100%
setelah berlari mengejar Kai dan berakhir dengan kepentok pohon pete. Namun
usahanya terbayarkan dapat mengalahkan
Kai dengan menyentuh start lebih dahulu.
“Eh
iya juga ya? mereka dimana ya? Ah tapi kasih petunjuk dong?”
“Enggak
kemarin aja pas Ruki jaga kalian tinggalin Ruki sendirian gara-gara ada orang
gila.” Bantah Ruki.
“lagian
juga aku cuma tahu Reita, tidak tahu dimana Aoi.” Tambahnya Ruki disambut
anggukan Uruha.
Sementara
itu dari dalam kolam si Aoi cengengesan karena tidak ada satupun dari
teman-temannya yang tahu.
“Astapiruloh...
Piiiihhh... ada ikan kita yang mutasi. Jadi gede banget...” di seberang kolam
Hitsugi yang lagi bawa jaring tereak-tereak pada papihnya karena melihat
penampakan makhluk air yang misterius.
“Mana-mana?”
tanya Pak Miyavi bersemangat barang kali aja ada ikannya yang mutasi jadi putri
gurame(?). Habisnya kan peliharanya gurame bukan duyung. Sementara itu si Kai,
Ruki dan Uruha juga ikut tertarik pengen lihat ikan yang mutasi.
“Itu
tuh” tunjuk si Hitsugi dengan jari tengahnya ke arah makhluk Mr-ius. Jadi ingat
temen author yang kalo jelasin presentasi selalu pake jari tengah buat nunjuk
papan. XD
“Jaringnya
mana, sini biar papih jaring kamu ikutan bantu nariknya.” Perintah Miyavi pada
anak bungsunya yang pierchingnya nggak kalah serem dari papihnya.
Dan
byuurrrrrrrr... ketika jaring dilempar dan di tarik ke atas. Dan menampakkan
sesosok makhluk yang menggeliat-geliat.
“Papih
anak sendiri keren gini masa dikira makhluk jadi-jadian sih?” teriak Aoi.
“Eeh...”
kelima orang di pinggir kolam hanya ber-eehh ria sambil meneliti makhluk yang
tertangkap jaring itu dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.(plakk)
“Aoiiiiii....?”
panggil meraka bersamaan.
“Iya
ini Aoi bukan putri gurame.” Ucap Aoi kesal.
“Papih
kirain... hehehehe maaf deh?!” Pak Miyavi meminta maaf pada anaknya sambil
melepas jaring.
“Lagian
kakak ngapain juga di dalam air? Udah tau mukanya mirip gurame gitu.” Ujar
Hitsugi yang langsung mendapatkan deathglare dari Aoi.
“Memang
situ mukanya nggak mirip ikan gabus apa?” balas Aoi pada adik tercintanya.
“Kan
malah jadi imut. Hehehhe,,” jawab si Hitsugi dengan Pe-De yang membuat ketiga
orang (Ruki, Uruha, Kai) hampir gubrak berjamaah melihat kenarsisan duo
kakak-adik ini.
“Udah-
udah, jangan berantem. Ayo pulang aja udah mau hujan. Mamih dah masak gurame
bakar tuh di rumah.” Lerai sang bapak pada anak-anaknya yang berwajah serem
ini. Kalo author boleh bilang mereka bertiga mungkin bunshinnya Pein Akatsuki
karena mukanya kebanyakan tindikan. XD
“Ehmmm...
Pak...” panggil Kai dan Ruki dengan mata berbinar.
“Iya
nak?” tanya si Miyavi sedikit merem karena silau dengan kilauan ketiga teman
anaknya itu.
“Kami
boleh ikut makan siang?” tambah Uruha jadi semakin melek.
“Oh
iya tentu saja. Ayo.” Ucap Pak Miyavi. Mereka lalu pulang ke rumah Aoi dan
Menyantap ikan bakar yang di bikin sama Hyde mamihnya Aoi. Herankan? Mamihnya
cantik banget kenapa anaknya semua nggak ada yang wajahnya bener. Salahkan
Miyavi yang terlalu sayang sama gurame dan ikan gabusnya.
“Masakannya
enak nih tante..” puji Ruki pada ibunya Aoi.
“Beneran?
Nambah lagi aja, tadi habis panen jadi masih baanyak.” Ucap Hyde pada temen
anaknya.
“Eh
kayaknya ada yang kelupaan deh..” kata Kai tiba-tiba.
“Ah
kamu sih masih kecil pikunnya nggak ketulungan. Paling juga buku atau kertas
ulangan bahasa inggris kamu ketinggalan di sekolahan.” Komen Aoi.
“bukan
deh kayaknya.” Sanggah Kai yang masih ngerutin dahinya berpikir keras.
“kayaknya
sesuatu yang lebih dari itu.” tambahnya.
“Gyaaaa....
REITA.” Ucap mereka semua bersamaan.
Sementara
itu.
“Mana
sih si Kai? Jangan-jangan lupa kalau lagi petak umpet lagi. Malah udah mau...”
Dhuaaar
ktikkk tik tik tikk tiikkk *sfx hujan
“hujaaaaaaaaann.................” Reita yang terlupakaan masih duduk sendirian
di tengah kebun nanas dan sekarang kehujanan.
Owari
Hahahaha
gara-gara keingat masa kecil jadi bikin ff aneh ini. Author biasanya lama
banget kalau disuruh jaga dan nyari temen-temen dulu.(Ga ada yg nanya kayaknya)
Ni lagi dapet tugas banyak banget diawal semester tapi seneng juga karena nilai smester kemarin naik hehhehe... ini malah mau praktek lapangan jadi bingung sendiri deh
OK makasih
dah mau baca lebih seneng lagi kalo ada yang review nih. ^_^