FAIRY TALE of a MIRROR
Special for all mirror prince in the world
Author : Momo AniCha/MoCha
Genre : fantasy
Warning : gaje, mistypo, OOC maybe, dkkl (baca: dan kegajean-kegajean lainnya)
Cast : member boyfriend and OC (glassie)
Sebuah fanfic yang terinspirasi ketika author tengah memandangi ke-imut-an, ke-unyu-an, ke-yeppeo-an and ke-kawaii-an seorang yeoja yang author liat saat author bercermin ^_^.
#dirajam beling ma reader. ( -_- )V
.
.
Bruuk..
Suara seseorang namja blondie telah menjatuhkan tubuhnya di atas bed ukuran sedang setelah puas menutup pintu (baca: membanting pintu). Menjambaki rambutnya, menatap buku-buku berserakan dari hasil tangannya. Mendengus sebentar dan menghempaskan badannya lagi tanpa sadar telah kupandangi ia dengan seksama, Ya aku sedang dikamar seseorang tanpa diketahui si pemilik itu atau bisa disebut diketahuinya tetapi secara implisit. Berjalan mendekati cermin besar dikamarnya, memandangi dirinya sejenak,lalu tersenyum manis.
“JEOONGG” panggil seseorang yeoja dari luar pintu sana sambil mengetuk pintu.
“ya ada pa umma?” jawab si namja berambut kriting blondie tadi sambil membuka pintu.
“umma pergi belanja dulu, jaga rumah jangan lupa kasih makan snoopy(?)”suara yeoja yang ku kenal sebagai umma sang namja tadi.
“ya umma tenang saja, aku bukan anak kecil.”sahut si namja yang bernama Jeongmin itu.
“bukan begitu, kau juga jangan lupa jemput adik di stasiun.”
“mwo?? Setan kecil itu pulang? Aisshh bikin ketentraman terganggu saja”
“tidak ada adikmu pun juga ketentraman rumah terganggu olehmu dan teman-temanmu itu.”sanggah ummanya.
“ah iya iya nanti kujemput kalau aku berminat.” Jawab jeong asal-asalan.
“hei kakek mu juga kesini jangan seenak mu.”
“apa kakek kemari? Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau kakek yang datang aku mau jemput dengan suka rela.”
“ya jemput dia distasiun jam 3 jangan telat kasihan kakekmu sudah tua, aku pergi dulu. Makanan ada dilemari es.” Ucap ummanya.
“baiklah umma.” jawabnya sambil tersenyum. “oya umma bawa oleh-oleh ya?”
Lalu makhluk keriting ini pun kembali ke depan cermin melihat sedikit. Mendengus melihat tumpukan bukunya yang berserakan di atas meja belajarnya tadi. Tersenyum, menggeleng lalu pergi mengambil handuk di lemari dan berlalu ke arah kamar mandi. Aku keluar dari tempat persembunyian ku tersenyum, lucu sekali dia itu. Benar-benarnamja yang manis.
“ini apa ya? Buku kimia ya? Hemm soalnya ribet juga? Pantas saja anak itu bingung sendiri.” Ucapku sambil membongkari buku-buku si Jeongmin tadi.
“tapi ini tidak terlalu sulit sih sebenarnya, hanya butuh pemikiran lebih, hah dasar Jeongmin begini saja jadi kayak orang bingung.” Gumamku lirih berharap si pemilik kamar itu tidak menyadari keberadaan ku. Kutengok ke arah pintu kamar mandi kudengar gemericik berisik air.
“oke dia mungkin masih lama. Kukerjakan saja sebagian.” Gumamku sambil mulai mengerjakan soal tentang persamaan reaksi elektrolisis dari buku itu.
“ini dibagi ini lalu dikali kan? yang ini diuraikan dulu ya tapi seperti apa caranya? Apa tidak ada contohnya.” Ungkap ku asyik membuka-buka buku setebal satu senti milik Jeongmin. Menjelaskan tentang rumus-rumus mencari massa atom relatif, lalu hukum faraday, katoda, anoda dan semacamnya. Soalnya asyik juga ternyata sampai aku sudah menyelesaikan 4 soal kudengar suara pintu kamar mandi akan dibuka. Langsung saja aku harus sembunyi lagi.
“hmm segarnya.” Ucapnya melempar pakaian kotornya kekeranjang. Lalu kulihat mata sipitnya sedikit membulat.
“apa yang?? Kenapa buku-buku ku terbuka dan berantakan?” ucapnya sambil meneliti buku-bukunya. ‘Pabbo kau, kenapa tidak membereskannya dulu?’ pikirku.
“wah soalnya juga sudah dikerjakan sebagian?” gumamnya lalu mengedarkan pandangan ke seisi kamarnya.
“sebenarnya siapa kau? Keluarlah? Ayo keluarlah!! Jangan sembunyi-sembunyi terus seperti ini.” Ucapnya sedikit gusar mungkin. Dia pasti penasaran dengan kejadian ini, sebab aku sering melakukannya tak hanya dua tiga kali tapi sering sejak dia pindah kemari. Kerumahnya sejak 3 bulan lalu.
“baiklah kalau kau tidak mau menunjukkan dirimu aku akan mencarimu sendiri” ungkap Jeong mulai menelusuri bagian per bagian dari kamarnya.
‘jangan sampai dia tahu. Kumohon jangan sampai dia tahu.’ Pintaku dalam hati, eh tapi mana mungkin dia tahu diriku? Apa pabbo ku memang mulai akut?
Jeongmin masih melongok ke belakang gorden, ke balkon, ke bawah tempat tidur, belakang laci, belakang pintu, sampai keluar kamar. Kasihan juga dia tapi aku tak boleh ketahuan. Setelah beberapa lama menanti Jeongmin sedang di luar kamar akhirnya kulihat anak itu kembali lagi. Tampak lelah dan kesal karena pasti tidak menemukan yang dicarinya karena dia mencariku di tempat yang salah. Aku di dalam kamarnya tidak kemana-mana.
Dia menarik napas dengan nafsunya dan menghelanya dengan kasar. “siapa orang selalu masuk kamarku dan melakukan tugas-tugasku itu?” dia menjambak rambutnya yang masih sedikit basah lalu berlalu kesini. Kearah tempat persembunyian ku oh kumohon jangan berpikiran bodoh. Dia tak akan menetahuimu kok. Dia menatap ke cermin rias besar dikamarnya terlihat sedikit frustasi.
“sebenarnya orang itu siapa?” ucapnya di depan cermin “aku tahu dia ingin membantu tapi kalau seperti ini malah membuat ku merasa diteror.” Dia tampak lusuh dan larut dengan pemikirannya. Lalu dia memandang cermin lagi menyunggingkan sedikit senyum.
Jeongmin pov.
“kau tahu melihat mu itu membuatku sedikit tenang?” aku berbicara pada diriku sendiri di cermin,memang aneh tapi melihat wajahku itu cukup menyenangkan
Kling..kling.. kling..
“siapa yang mengirim pesan?” aku lalu menuju kearah meja belajarku yang berantakkan tadi.
“oh Donghyun? Kenapa menggirim pesan biasanya juga telpon?”
Hei ada di rumah tidak? pinjam catatan tadi pagi..
aku akan kesitu sebentar lagi..
segera saja kubalas sms nya,
ya aku dirumah, cepat kemari aku ingin cerita sesuatu!!
Lalu aku pun segera pergi keluar kamar setelah merapikan mejaku. Aku masih penasaran dengan sosok misterius yang sering masuk ke kamarku dan melakukan pekerjaan rumah ku itu. Tapi dari pada pusing tentang itu lebih baik aku makan siang saja sambil menonton TV dan menunggu Donghyun. Kuharap orang itu bisa memberiku sedikit solusi. Tapi sebelumnya menatap cermin dulu aku sampai lupa merapikan rambutku.
“Hah Jeongmin tahukah kau sungguh sangat tampan.” Ucap ku sambil tersenyum menatap kembaranku di dalam cermin. Ya kembaranku memang hanya pada pantulan cermin tidak seperti si Jo Twins yang memang asli kembar. Setelah itu kulangkahkan kaki ku keluar kamar dan mengunci pintuku dari luar. Siapa tahu dia masuk lagi atau malah dia masih sembunyi di dalam?
End of Jeongmin pov.
Kutatap punggungnya yang menghilang dibalik pintu dengan perasaan lega. “kau memang unik Jeongmin-ssi. Maafkan aku kalau mu merasa kuteror?! Tapi satu hal yang ingin kukatakan sebagai cermin ajaibmu ini. Kau memang namja tertampan yang pernah kulihat selama hampir 30 tahun ini.” Ucapku sambil terkikik geli. Ya aku memang bersembunyi di dalam cermin. Ya aku menghuni cermin besar di dalam kamar ini semenjak 10 tahun yang lalu, dan mulai membuat Jeongmin kesal semenjak keluarga Lee pindah kerumah ini.
Aku adalah sesosok gadis yang telah terjebak dalam cermin ini tanpa kutahu mengapa. Dan entah sampai kapan itu aku tidak tahu? Hanya terus berusaha hanya itu yang kubisa selama 30 tahun ini. Namun entah mengapa aku yang ingin membantu keluarga yang tinggal di rumah ini malah akhirnya membuat mereka takut mendiami rumah ini. Padahal itu bukan maksudku, ya sudahlah. Aku bosan kalau rumah penuh orang aku tidak bisa bebas di rumah, jadi mengisi untuk kejenuhan, kupandangi foto Jeongmin yang terpasang di meja belajarnya. Manis sekali kau penghuni baru yang manis Lee Jeongmin dan juga penggila cermin.
.
.
..end..
Akhirnya selesai juga yang satu ini, pendek ya?? hemm sebenarnya ini hanya hayalan author yang otaknya udah rada-rada. Terinspirasi dari sebuah komen di fb yang kulontarkan tanpa pikir panjang eh lalu berujung pada fanfic ini. Ini adalah ff tentang boyfriend ke-2 yang kubuat, kira-kira enak dilanjut atau tidak readers minna??.. Bagi yang udah mau baca terima kasih banyak dan mohon tinggalkan jejak kalian. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar